Aqidah Islamiyyah
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا
أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ
وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ
بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
"Rasul
telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka
mengatakan): "Kami tidak membedakan antara seseorang pun dari
Rasul-Rasul-Nya", dan mereka mengatakan, "Kami dengar dan kami
taat". Mereka berdoa: "Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada
Engkaulah tempat kembali." (QS.
Al-Baqarah: 285)
Pembahasan aqidah merupakan pembahasan yang
paling penting dibandingkan dengan berbagai perkara lainnya. Hal ini disebabkan
aqidah merupakan asas, kaidah berfikir, tolok ukur suatu perbuatan, dan standar
(acuan) bagi seorang muslim serta masyarakatnya memecahkan berbagai persoalan
(problematika) yang terjadi dalam kehidupannya di dunia. Dengan demikian,
aqidah menjadi landasan bangunan peradaban manusia, dasar berbagai tonggak
kehidupan ditegakkan, tempat keluarnya berbagai aturan dan peraturan kehidupan,
norma, dan tata nilai masyarakat. Aqidah pula yang menentukan cara dan arah pandang, cita-cita, dan
tujuan yang dianut oleh para pemeluknya, diyakini kebenarannya, diperjuangkan,
dipertahankan, dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.
